# 1
Dalam memahami Syu'abul Iman, cabang ke-74, yaitu 'memelihara lisan dari perkataan yang sia-sia dan dusta', bagaimana seorang mukmin yang mendalami aspek ini dapat membedakan antara 'perkataan sia-sia' yang dilarang dan 'perkataan baik' yang dianjurkan, terutama dalam konteks interaksi sosial yang dinamis?
Dengan selalu berbicara jujur tanpa memikirkan dampaknya agar terhindar dari tuduhan berdusta.
Dengan mengukur setiap ucapan berdasarkan potensi manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain, serta menghindari ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian.
Dengan membatasi interaksi sosial untuk mengurangi risiko tergelincir dalam perkataan sia-sia.
Dengan menganggap semua perkataan yang tidak berkaitan langsung dengan ibadah sebagai perkataan sia-sia.


